MARTUNIS BERTUTUR
April 3rd, 2007 by thecoolsunsonMartunis,
Dan Kesaksian Keberadaan Tuhan
Kenal Martunis? Tanggal 26 desember tahun lalu mungkin menjadi hari yang berbekas dalam rongga hatinya dan dalam ingatannya. Bagaimana tidak gelombang tsunami menerjang tanah kelahirannya. Bencana tsunami menerjang ratusan rumah, ribuan jiwa terhempas gelombang yang dahsyat hingga ikut terseret tak berdaya mengikuti aliran air. Ribuan anak kehilangan orang tuanya, begitu juga banyak orang tua yang kehilangan putra-putrinya. Tak kurang 200 ribu korban berjatuhan saat itu. Sungguh angka korban yang luar biasa yang pernah hadir dalam lintasan realita sejarah Indonesia. Ribuan trauma tumbuh subur diatas serambi mekah. Terutama anak-anak. Rizma Scoffield dari ICR ( Indonesia Children Relief ), suatu organisasi social dari Inggris bersama beberapa kolega perempuannya menjelaskan hasil kunjungannya ke aceh. Perempuan inggris berdarah melayu itu sempat bertanya jawab dengan putra-putri aceh,
“Siapa kehilangan ibu ?” tanyanya
“beberapa bocah mengacungkan tanganya.
“Siapa kehilangan ayah ?”
Beberapa lainnya angkat tangan.
“Siapa kehilangan ayah dan ibu ?”
Luar biasa sekali . ada lebih banyak jari-jari mungil teracung keatas. Nizma tak dapat berkata-kata selama beberapa saat. Ia tersentak kaget. Lidahnya kelu. Ia hanya mampu sesgera mungkin menyeka air matanya sebelum semakin deras mengucur, tak ingin menambah perih duka putra-putri aceh dengan tangisnya. Tugasnya kesana bukan tuk menangis, namun tuk kembali membuat mereka tersenyum.
Air mata dunia tumpah. Setiap hati, mata, tangan akan jadi saksi.
Itulaha Aceh. Di propinsi yang kaya sumber alam dan kaya konflik itu lahir Martunis. Ditengah gelombang konflik yang tak berujung tumbuh Martunis. Belum genap delapan tahun umurnya gelombang yang lebih dahsyat menghentakkannya. Ibu dan dua orang saudaranya hilang entah kemana, diperkirakan telah tewas (menurutku mereka syahid). Secara ajaib Martunis selamat. Bocah asal desa tibang, kota banda aceh ini ditemukan dalam kondisi yang memprihatinkan di sebuah pantai dengan sekujur tubuh penuh bekas gigitan nyamuk. Ia selama 19 hari bertahan hidup hanya dengan memakan mie instant bungkus yag bertebaran di laut, lalu menggunakan apa saja yang ada didekatnya untuk mengapung. Dari mobil yang hanyut, kasur busa, sepotong kayu dan sebatang pohon bangka, sampai akhirnya ditemukan diatas kasur busa berlapis karet. Ia bertahan dengan semua itu. Waktu yang mengejutkan bagi seorang manusia apalagi anak kecil tanpa makan minum yang memadai. Tim televisi inggris yang sedang meliput menemukannya terkatung-katung di pesisir pantai. Lalu ia dibawa ke rumah sakit dan bertemu dengan ayah dan kakenya yang telah terlebih dahulu berada disana.
Lalu apa yang ada di benak kita setelah melihat kisah bocah ajaib ini.
Sudah banyak teori, sudah banyak analisis yang dikeluarkan para ilmuwan, filosof, maupun teolog mengenai keberadaan Tuhan. Pemaparan tentang bukti-bukti tentang eksistensi Tuhan telah terukir dalam puluhan buku yang berjejer di rak-rak berdebu. Yang paling sering alam semesta dengan segala kerumitanya dan keteraturan di jadikan dalil atas keberadaan-Nya.
Ilmu penetahuan mutkhir telah menemukan adanya bukti-bukti alamiah yang kuat bahwa alam ini tidak azali( sudah ada sebelum yang lain ada, tak diawali oleh sesuatu) dan alam juga tak kekal, karena telah dibatasi oleh umur tertentu. Menurut ilmu astronomi alam ini selalu berhubungan satu sama lain. Seluruh gugusan bintang serta semua benda-benda langit saling menjauh dengan kecepatan yang menakjubkan. Ini menunjukakan bahwa benda-benda yang saling menjauh itu awalnya adalah sebuah kumpulan yang menyatu (entah kapan terjadinya). Karena ada energi panas menyebabkan terjadinya ledakan dahsyat (teori big bang) dan dibantu oleh energi gerak maka pemisahan itu terjadi. Ledakan dahsyat yang terjadi ternyata membentuk suatu keteraturan dan keseimbangan yang mempesona dengan tingkat kesempurnaan yang tinggi.
Menurut mereka lagi benda-benda yang saling menjauh itu akan berhenti bergerak pada massa dan titik tertentu. Segala yang ada awalnya pasti ada akhirnya. Gerak benda yang terus-menerus itu suatu saat akan berhenti dan mengalami kehancuran.
Dari penemuan-penemuan ini mereka ( para peneliti ) berkesimpulan bahwa di dalam pesona alam semesta ini ada suatu kekuatan yang mengatur segala proses yang terjadi. Mereka melihat jejak-jejak Tuhan dalam alam ini. Ada kekuatan yang meledakkan dengan meniupkan energi panas, ada kekuatan yang menggerakkan, ada kekuatan yang meletakkan dengan kesempurnaan dan keseimbangan yang luar biasa indah. Dialah kekutan yang maha kuasa. Dialah Tuhan, yang terlibat pada semua ini. sungguh Tuhan tak bermain dadu dalam penciptaan mereka.
Lalu apa yang ada dibenak kita membaca uraian diatas.
Khusunya saya yang awam, belum cukup untuk percaya begitu saja atau menggetarkan hati ini. terlalu memusingkan, njelimet. Bagi mereka para peneliti mungkin telah cukup karena mereka memahaminya. Dari otak mereka yang meneliti lalu memahaminya maka akhirnya menggetarkan hati mereka. Hal itu wajar saja. Nah kalau kita yang tidak terjun di bidang astronomi, fisika, atau disiplin ilmu yang membahas tentang planet dan dunia luar, mungkin hanya bias percaya saja. Kita tahu bahwa fungsi mata adalah untuk melihat. Bila di tanya buktinya, kita hanya mampu menjawab buktinya adalah coba tutup mata, pasti akan gelap semua ini. dangkal sekali pemahaman kita. Spinoza, seorang filosof dari belanda berkata ketika ditanya apakah ia percaya pada Tuhan , Kita seperti anak kecil yang masuk ke sebuah perpustakaan besar penuh dengan buku. Anak itu sadar pasti ada yang pernah menulis buku-buku itu. Secara samar-samar, si anak menduga ada keteraturan misterius dalam penyusunan buku-buku itu. Bagiku itulah sikap yang sesungguhnya terhadap Tuhan. Kita tahu bahwa ada keteraturan yang menakjubkan dan mematuhi hukum-hukum tertentu dalam alam semesta ini. tapi kita mengetahuinya dan memahaminya secara samara-samar. Begitulah kata Spinoza. Pikiran kita sangat terbatas. Tak akan sanggup mengikuti pikiran tuhan yang amat sangat tak terbatas. Dunia batuan, pepohonan gemintang, planet, hewan bukanlah bukanlah subjek penelitian yang netral. Pokok bahsan sains murni tidak lain adalah cermin untuk meliahat bayangan wajah Tuhan. Kita membutuhkan cara atau media lain yang dapat di pahami secara menyeluruh.
Namun apa yang ada di benak kita bila mendengar kisah martinis.
Mungkin inilah kisah yang dapat menggetarkan hati kita. Kekuatan apa yang ada pada bocah ini. kekuatan apa yang menemaninya di pesisir panta yang terisolir. Kekuatan apa yang mengatur isi perutnya. Kekuatan apa yang menstabilkan gerak jantungnya. Kekuatan apa yang menyelimutinya di kala hawa dingin mulai menyerang dan menggigit tulang, kekuatan apa yang melindunginya dari serangan demam berdarah walaupun tubuhnya penuh dengan gigitan nyamuk, sementara di daerah lain anak-anak seumuran dia tergeletak lemas akibat serangan aedes aegepty ini. hanya satu jawaban yaitu kekutan Tuhan. Kekuatan Allah. Tuhan dengan keperkasaan dan kasih sayangnya, terlalu mudah tuk memberikan secuil kekuatan buat martinis. Inilah bukti yang tuhan turunkan tentang keberadaannya yang dengan mudah diterima bagi orang yang mau menggunakan segumpal hatinya dan berfikir. Tuhan terlalu mempunyai banyak cara untuk memberi bukti akan keberadaanya. Tuhan terlalu amat bijaksana.
Setelah itu apa yang ada di benak kita ?
Sujud !!!!!!!
Abu Bakar Saleh..(februari, 2004 )